Pembelajaran di wilayah terdampak banjir Sumatra. Foto Kemendikdasmen

Ribuan sekolah terdampak banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memicu kekhawatiran terjadinya learning loss bagi siswa. Berdasarkan data Kemendikdasmen hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 4.149 satuan pendidikan di wilayah Sumatra mengalami kerusakan. Meski Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyatakan kegiatan belajar mengajar (KBM) sudah kembali 100 persen, para pengamat menilai kualitas hasil belajar saat ini masih belum berada pada kondisi ideal.

Pengamat pendidikan UIN Jakarta, Jejen Musfah, mengingatkan bahwa rusaknya ribuan fasilitas pendidikan bukan sekadar masalah fisik bangunan. Menurutnya dampak jangka panjang yang paling mengkhawatirkan adalah potensi terjadinya learning loss dan ketertinggalan signifikan bagi para siswa.

“Hasil belajar siswa akan mengalami penurunan karena ketidaksiapan fasilitas belajar. Guru-guru juga mengalami guncangan psikologis akibat musibah ini. Jadi itu yang akan terjadi yaitu loss learning dan kita mudah-mudahan tidak terjadi loss generation artinya anak-anak ini mengalami ketertinggalan yang signifikan dibanding dengan para siswa di lokasi-lokasi yang tidak terdampak bencana,” ujar Jejen saat diwawancarai via Google Meet, Rabu, 21/1/26.

Jejen yang baru saja meninjau kondisi di Padang, Sumatra Barat, menyoroti bahwa pemulihan banjir kali ini jauh lebih berat dibandingkan pasca-tsunami karena meninggalkan sisa lumpur dan kayu yang tebal di gedung sekolah. Kondisi ini memaksa beberapa sekolah melaksanakan pembelajaran tanpa meja dan kursi (lesehan) atau di dalam tenda-tenda darurat.

Urgensi Infrastruktur dan Integritas

Selain pembersihan sekolah, kendala yang dihadapi saat ini adalah akses mobilitas. Menurut pengamatan Jejen, jembatan penghubung menuju sekolah yang belum pulih, sehingga memaksa guru dan siswa menggunakan peralatan penyeberangan sederhana yang berisiko tinggi.

Di sisi lain, Jejen mendorong pemerintah untuk mempercepat pemulihan infrastruktur jalan dan jembatan demi keselamatan warga sekolah. Lebih lanjut, Ia juga mengusulkan langkah inovatif berupa pembangunan rumah dinas guru di sekitar zona sekolah, terutama bagi guru yang kehilangan tempat tinggal.

“Pemulihan infrastruktur seperti jembatan dan jalan harus dipercepat karena akses menuju dan pulang sekolah sangat krusial bagi keselamatan siswa maupun guru. Kemudian penting sekali memikir, mempertimbangkan misalnya guru itu kehilangan rumah maka penggantinya itu adalah rumah yang dibuat oleh pemerintah yang di sekitar sekolah mereka mengajar. Kalau dibuat rumah sementara jaraknya puluhan kilometer ke sekolah itu menjadi masalah lain ya dimana hanya akan menguras tenaga para guru,” ucapnya.

Sebagai penutup, Jejen menekankan pentingnya pengawasan bantuan berbasis data yang akurat agar tepat sasaran. Lebih lanjut, ia memperingatkan pentingnya integritas agar tidak ada oknum yang menyalahgunakan bantuan bencana untuk kepentingan pribadi di tengah masa sulit ini. 

“Jadi sekali lagi, di satu sisi monitoring dan evaluasi terhadap kondisi waktu di lapangan menjadi penting lalu berbasis data. Kita juga mengharapkan ada integritas, ada etika,  dari orang-orang di lapangan yang memastikan bahwa bantuan ini betul-betul disampaikan kepada mereka yang berhak,” tandasnya.

By admin

Hai, Aku Salsa! Mahasiswi aktif semester 6 prodi Jurnalistik UIN Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *